Terima Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Jokowi Menjawab Tentang Freeport dan ISU TKA

0
499
Terima Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Jokowi Menjawab Tentang Freeport dan ISU TKA

Terima Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Jokowi Menjawab Tentang Freeport dan ISU TKA

Presiden Joko Widodo menerima ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (6/8/2018) pukul 14.30 WIB.
 
Para mahasiswa yang hadir merupakan peserta Muktamar XVIII IMM di Malang, Jawa Timur. Dalam acara itu, Presiden Jokowi lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswa. Kepala Negara membuka kesempatan kepada para mahasiswa tersebut untuk bertanya. Para mahasiswa pun mengajukan pertanyaan kritis.
 
Salah satu mahasiswa dari IMM Pusat bertanya soal divestasi saham PT Freeport sebesar 51 persen. Mahasiswa itu menilai bahwa keberhasilan pemerintah mendapatkan mayoritas saham perusahaan tambah yang berbasis di Amerika Serikat itu hanya permainan kata-kata.
 
“Yang 51 persen itu sebetulnya cuman permainan kata atau bahasa yang sejatinya kita itu rugi karena sejatinya kontrak itu kan sudah selesai (pada 2021), mestinya sudah selesai kembali saja ke Indonesia,” jawab Presiden.
 
Presiden Jokowi memberikan beberapa argumentasi lugas kenapa divestasi saham Freeport 51 persen adalah jalan terbaik. Pertama, adalah menyangkut teknologi yang dimiliki PT Freeport. Menurut Presiden Jokowi, alat-alat untuk bekerja di Freeport adalah alat yang sangat canggih yang belum dimiliki oleh Indonesia.
 
“Sehingga kalau kita mau beli perlu investasi yang sangat besar. Karena kalau kita mau ambil sepenuhnya begitu, maka kemudian investasi untuk alat-alat itu menyampai ratusan triliun, kira-kira darimana,” lanjut Presiden.
 
Kepala Negara mengatakan, masyarakat Indonesia harus banyak belajar mengelola tambang besar seperti Freeport. Selain itu perundingan pemerintah Indonesia dan Freeport berjalan dengan sangat alot. Proses negosiasi bahkan memakan waktu 3,5 tahun.
 
Kemudian pertanyaan yang kedua dari Mahasiswa IMM asal Morowali. Mahasiswa tersebut menanyakan soal banyaknya tenaga kerja asing di daerahnya. Presiden menjelaskan, tentang proses pengerjaan tenaga asing di Morowali itu, memang memerlukan keterampilan khusus, dan harus sangat terampil, kita yang harus belajar dari mereka, kita harus mendampinginya, dan nantinya kita akan tangani sendiri.
 
Presiden juga menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu takut dan khawatir. Sebab, negara lain seperti Uni Emirat Arab hingga Malaysia jumlah tenaga kerjanya jauh lebih banyak dari Indonesia. Presiden menjelaskan kembali bahwa, di Arab Saudi tenaga kerja hingga 82 persen, kemudian di Malaysia 5 persen, dan di beberapa negara lain juga tinggi, namun di Indonesia tenaga kerja asingnya hanya 0,3 persen.
#2019pilihJokowi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 1 =